Media Online Milik Gereja Kemah Injil KINGMI Papua

Kamis, 27 Januari 2011

Menuju Papua Baru : Belajar dari Frans van Lith


(Pendidikan Bagi Semua Elemen Rakyat  di Tanah Papua Barat)

 Siapa Frans van Lith?
Frasisicus Georgius Josephus van Lith atau yang sering disebut Frans van Lith adalah seorang misionaris asal Belanda yang datang ke pulau Jawa untuk menyebarkan agama Katolik tapi juga untuk belajar budaya dan adat-istiadat orang Jawa, terutam di daerah Jawa Tengah. Ia yang mengembang misi dari Ordo Jesuit ini lahir tanggal 17 Mei 1863 dan meninggal di Jawa tanggal 9 Januari1926. Ia tiba di Semarang tahun 1896 dan mulai menetap di Mutilan tahun 1897. Di Mutilan ia tinggal di sebuah desa di pinggiran sungai Lamat yang bernama Semampir. Dengan menetap di Desa ini ia mulai menjalankan misinya. Hasil dari misinya itu pada 14 Desember 1904 ia membaptis 171 orang Jawa yang berasal dari wilayah Kaliwang di Sendangsono dan Kulon Progo. Misi pelayanannya di wilayah ini berjalan dengn baik. Pertanyaannya adalah pendekatan seperti apa yang ia pakai hingga misinya berjalan lancar?

Misi yang Dijalaninya
Frans van Lith berhasil dalam misinya karena dia membiarkan orang Jawa tumbuh dalam hidup beriman Kristianinya dari dalam, menurut gayanya sendiri dan tidak menurut ukuran-ukuran atau gaya Belanda. Gaya penginjilan Romo van Lith adalah bebas dari penindasan kebudayaan dari segala seginya. Gerakan misinya tidak seperti beberapa misi gereja pertobatan di Papua yang justru menindas kebudayaan orang asli.
Ia mengajar orang Jawa untuk mengenal Yesus Kristus dari budaya mereka. Ia tidak memaksa mereka mengenal Yesus dengan gaya orang Eropa dan Amerika. Ia juga memberikan penyadaran-penyadaran atas situasi sosial yang dihadapi orang Jawa pada waktu itu.
Dalam situasi orang Jawa yang tertindas dan terjajah pada saat itu ia berdiri disisi mereka dan bersuara kenabian. Dalam suara kenabiannya ia pernah berkata “setiap orang sekarang tahu, kami, para misionaris, ingin bertindak sebagai penengah, tetapi setiap orang tahu juga, bahwa seandainya terjadi perpecahan, meskipun hal itu tidak kami harapkan, sedangkan kami terpaksa memilih, kami akan berdiri di pihak pribumi”, artinya golongan yang dijajah dan dihisap. Dari pernyataannya ini ia hendak berkata bahwa gereja tak dapat hidup untuk dirinya sendiri. Gereja harus ada digaris keprihatinan Allah akan dunia yang kacau balau. Tugas gereja bukan hanya membaptis orang dan menambah jumlah anggota-anggotanya, tapi juga tenggelam dalam dunia sosial umat untuk memberikan pemahaman dan penyadaran baik kepada umat itu sendiri tapi juga kepada penguasa yang menindas.
Romo van Lith dalam pelayanannya telah memihak kepentingan orang-orang pribumi yaitu orang-orang yang ditindas dan dihisap. Dalam semangat kemanusiaan, keadilan, dan persaudaraan ia telah membela kesamaan hak dan persaudaraan universal. Ia adalah seorang yang berani mengkritisi penguasa dan para penjajah lainnya dengan kata-kata profetisnya. Ia pernah berkata bahwa “Apa yang sekarang ada, tidak akan tetap ada. Apa yang lemah, akan menjadi kuat; yang kuat, menjadi lemah. Apa yang sekarang berjalan, akan berhenti dan apa yang sekarang berdiri, akan jatuh. Zaman baru mulai menyingsing. Siapa bijaksana bersiap-siap menyosongsong kedatangannya.”
Perjuangannya untuk penyamaan hak tidak hanya dilakukannya lewat mimbar-mimbar gereja tapi juga melalui dunia pendidikan. Ia membuka sebuah sekolah yang diberi nama “Kweekschool”. Sekolah ini dibuka untuk mendidik anak-anak pribumi agar mereka ini nantinya kembali menjadi guru bagi orang Jawa lainnya tapi juga agar mereka mempunyai kedudukan yang baik dalam masyarakat. Selain itu sekolah itu dibuka berangkat dari pengamatannya tentang mentalitas orang-orang Jawa saat itu yang sangat terkooptasi oleh gaya orang Belanda melalui pendidikan kaum penjajah. Berangkat dari pengalaman itu ia membuka sekolah bersifat kontekstual walaupun harus sedikit kompromi dengan kurikulum pendidikan penjajah.
Untuk membendung pengaruh westernisasi van Lith mengunakan dua macam strategi, yakni; 1) Mendidik dan membina guru-guru sekolah dasar untuk memahami kebudayaan Jawa agar transfer ilmunya nanti bersifat kontekstual. Hal itu dilakukan karena menurutnya disanalah dasar dari pembentukan watak/mentalitas generasi masa depan. 2) Ia mengelar pertemuan-pertemuan dengan semua unsur masyarakat guna mengajak mereka mempelajari dan mengamalkan kebudayaan mereka pada setiap kehidupan. Kedua hal itu dilakukan sebab bahaya alienasi budaya barat sangat mengancam eksistensi hidup orang Jawa saat itu.  
Agar misinya benar-benar berhasil ia membentuk sekolah-sekolah berpola asrama. Maksudnya supaya anak-anak murid itu berkonsentrsi dengan ilmu yang mereka pelajari. Mereka diasingkan dalam disiplin yang tinggi supaya spritualitas dan mentalitas mereka benar-benar kuat. Menurut van Lith hanya dengan demikian mereka akan berani bersuara membela kaum yang dijajah dan dihisap.      

Bagaimana dengan kita di Papua?
Pertanyaan diatas menantang kita semua, orang pribadi, organisasi gereja, pemerintah, LSM-LSM dan lembaga-lembaga pendidikan yang ada. Sudahkah kehidupan yang kita bangun selama ini menjawab kebutuhan-kebutuhan riil kita dan masyarakat kita? Atau paling tidak mengikuti teladan Romo van Lith diatas untuk merubah tatanan sosial kita yang sangat sembrawut ini.
Hampir setiap hari media-media lokal di tanah Papua menunjukan wajah tatanan sosial kita yang hancur di mana-mana. Tingkat korupsi semakin tinggi, jumlah penginap HIV/AIDS terus meningkat, tindakan kriminalitas makin bertambah, pendidikan di wilayah-wilayah pegunungan yang berantakan akibat guru-guru yang meninggalkan sekolah tapi juga karena gedung sekolah yang rusak, bertambahnya kenakalan remaja karena kurangnya pengawasan dari orang tua dan agama, situasi politik, hukum dan HAM yang tidak stabil,  kesejahteraan hidup yang jauh dari layak serta penyakit sosial lainnya.
Dalam situasi berantakan itu kita berkarya namun kesadaran kita untuk merubah kehidupan sosial kita seperti itu kayaknya tidak ada. Barangkali karena kita telah dihinggapi oleh egoisme yang tinggi atau karena uang telah menggurita pikiran-pikiran positif kita. Atau mungkin kita dihantui oleh ketakutan akibat tekanan-tekanan penguasa melalui aparat militer sehingga kita bertingkah seolah tidak tahu menahu.
Perubahan di Papua tidak bisa dilakukan hanya dengan teori-teori modern yang dibaluti kepentingan-kepentingan egoistis. Teori-teori modern kadang kurang pas dengan realita hidup kita. Oleh karena itu teori modern arus dikawinkan dengan realita tapi juga kebudayaan kita agar perubahan bisa terlihat. Tapi kita juga harus bermawas dengan teori-teori kaum penjajah dan kapitalis yang sudah dan sedang menghancurkan kita.
  
Pengalaman dan karya van Lith diatas kiranya menjadi guru yang terbaik bagi kita (pribadi, keluarga, gereja, lsm, lembaga pendidikan dan pemerintah) dalam berkebijakan guna menuju Papua Baru. Papua tanpa jeritan tangis dan air mata. Papua yang menghargai jatih diri, harkat serta martabat sesamanya.

by : Naftali Edoway  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar